Thursday, 22 December 2011

SUTRA BAKTI SEORANG ANAK

SUTRA KASIH YANG MENDALAM
DARI ORANG TUA
DAN KESULITAN UNTUK MEMBALASNYA
(SUTRA BAKTI SEORANG ANAK)

Sumber Naskah : Fileal Piety Sutra

Demikianlah yang aku dengar, pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di
Shravasti, di Hutan Jeta, di Taman Pelindung Anak-anak Yatim Piatu dan Para
Pertapa, bersama-sama dengan sekumpulan Mahabhikshu, yang seluruhnya
berjumlah seribu dua ratus lima puluh, dan dengan semua bodhisattva,
jumlahnya tiga puluh delapan ribu semuanya.

Pada waktu itu, Sang Bhagava memimpin kumpulan besar itu dalam perjalanan
menuju selatan. Tiba-tiba mereka menjumpai seonggok tulang manusia disamping
jalan. Sang Bhagava berpaling menghampirinya, dan bersikap anjali dengan
penuh hormat.

Ananda dengan bersikap anjali kemudian bertanya kepada Sang Bhagava,
"Tathagata adalah guru agung dari triloka dan bapak yang terkasih dari
makhluk-makhluk yang berasal dari empat jenis kelahiran. Beliau dihormati
dan dicintai seluruh umat. Apakah sebabnya kini beliau menghormati seonggok
tulang-tulang kering?." Sang Buddha berkata kepada Ananda, "Meskipun engkau
adalah siswa-Ku yang utama dan telah cukup lama menjadi anggota Sangha,
engkau masih belum mencapai pengertian yang jauh. Onggokan tulang itu
mungkin adalah milik para leluhur pada kehidupan lampau. Mereka mungkin
adalah orang tua-Ku dalam banyak kehidupan yang telah lalu. Itulah sebabnya
sekarang Aku bersujud". Sang Buddha melanjutkan pembicaraan-Nya kepada
Ananda, "Tulang-tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua
kelompok. Yang satu adalah tulang-tulang lelaki, yang berat dan putih
warnanya. Kelompok yang lain adalah tulang-tulang perempuan, yang ringan dan
warnanya hitam."

Ananda berkata kepada Sang Buddha, "Duhai Sang Bhagava, sewaktu para lelaki
masih hidup di dunia mereka menghiasi badan dengan jubah, pengikat pinggang,
sepatu, topi, dan pakaian-pakaian indah lainnya sehingga mereka jelas-jelas
nampak perkasa. Ketika perempuan masih hidup, mereka mengenakan kosmetik,
minyak wangi, bedak, dan wangi-wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh
mereka, sehingga dengan jelas menampakkan kewanitaannya. Namun tatkala para
lelaki dan perempuan itu meninggal, semua yang tertinggal adalah
tulang-tulang. Bagaimana seseorang dapat membedakannya?. Ajarilah kami
bagaimana membedakannya?."

Sang Buddha menjawab Ananda, "Ketika para lelaki ada di dunia, mereka
memasuki rumah ibadah, mendengarkan penjelasan-penjelasan tentang
Sutra-sutra dan Vinaya, menghormati Sang Triratna dan menyebut nama-nama
Buddha. Tatkala mereka meninggal tulang-tulangnya menjadi berat dan putih
warnanya. Kebanyakan wanita dalam dunia mempunyai sedikit kebijaksanaan dan
dipenuhi emosi. Mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak, merasakannya
sebagai kewajiban. Setiap anak bergantung pada air susu ibunya yang telah
berubah. Oleh karena penghisapan (Penyedotan) dari badan ibu ini saat sang
anak mengambil susu dan kerenanya tulang-tulang mereka berubah menjadi hitam
dan ringan."

Ketika Ananda mendengar kata-kata ini, ia merasakan kepedihan dalam hatinya,
karena seolah-olah telah tertusuk pedang dan karenanya ia diam-diam
menangis. Ia mengatakan kepada Sang Bhagava, "Bagaimana caranya seseorang
dapat membalas kasih dan kebaikan ibunya?"

Sang Buddha mengatakan kepada Ananda, "Dengarkanlah baik-baik, dan Aku akan
jelaskan hal ini kepadamu dengan terperinci. Janin tumbuh dalam kandungan
selama sepuluh bulan perhitungan Candra sengkala. Alangkah menderitanya ibu
selama janin berada di situ! Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin
tidaklah menentu seperti titik embun pada daun yang kemungkinan tidak akan
bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menguap pada tengah hari!"

"Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental. Pada bulan
ketiga, ia seperti darah yang mengental. Pada bulan keempat, janin mulai
terwujud sedikit seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan,
kelima anggota badan anak(dua kaki, dua tangan, dan kepala) mulai terbentuk.
Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti keenam alat
inderanya yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan pikiran. Selama
bulan ketujuh, ketiga ratus enam puluh tulang-tulang dan persendian rambut
juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan
kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin telah belajar
menyerap berbagai zat makanan. Misalnya janin dapat menyerap sari
buah-buahan, akar tanaman tertentu, dan kelima macam padi-padian."

Bagian dalam tubuh ibu adalah organ yang padat, untuk fungsi menyimpan, dan
ia tergantung ke arah bawah, sedangkan organ dalam yang hampa, berguna untuk
mengolah, dan ia melingkar ke arah atas. Ini disamakan dengan ketiga gunung
yang terbit dari permukaan bumi. Kita boleh menyebut gunung-gunung ini
Puncak Sumeru, Gunung Karma, dan Gunung Darah. Gunung-gunung analogi ini
bersatu, dan membentuk satu gugusan dengan puncak-puncak ke sebelah atas dan
lembah-lembah ke sebelah bawah. Begitu jugalah, pembentukan darah ibu dari
organ-organ dalamnya membentuk zat tunggal yang menjadi makanan anak. Selama
bulan kesepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk
dilahirkan. Bila anak itu sangat berbakti dia akan lahir dengan telapak
tangannya disatukan sebagai tanda menghormat dan kelahiran itu akan aman dan
baik. Ibunya tidak akan terluka oleh kelahiran itu dan tidak akan menderita
kesakitan. Tetapi, bila anak itu sangat pemberontak jahat *) maka dia akan
merusak kandungan ibunya, mengoyak jantung dan hati ibunya, akan tersangkut
di tulang-tulang ibunya.

*) kelima Perbuatan Jahat adalah membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh
orang suci, memecah belah Sangha, dan melukai Buddha.

Kelahiran itu akan seperti sayatan seribu pisau atau seperti seribu pedang
tajam menikam jantungnya. Itulah kesakitan-kesakitan yang terjadi dalam
kelahiran anak nakal dan yang pembangkang.

Untuk menjelaskan lebih jelas, ada sepuluh jenis kabaikan yang diperbuat
oleh seorang ibu kepada anaknya:

Pertama, kebaikan di dalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak
dalam kandungan.
Kedua, kebaikan di dalam menanggung penderitaan selama kelahiran.
Ketiga, kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah
dilahirkan.
Keempat, kebaikan dan memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan
bagian yang manis bagi anak.
Kelima, kebaikan untuk memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya
sendiri berbaging di tempat basah.
Keenam, kebaikan menyusukan anak pada payudaranya dan memberi makan dan
membesarkan anak.
Ketujuh, kebaikan dalam membersihkan yang kotor.
Kedelapan, kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh.
Kesembilan, kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdiannya.
Kesepuluh, kebaikan karena rasa welas asih yang dalam dan simpati.


1.. KEBAIKAN DI DALAM MEMBERIKAN PERLINDUNGAN DAN PENJAGAAN SELAMA ANAK DI
DALAM KANDUNGAN.
Sebab-sebab dan kondisi-kondisi dari banyak kalpa yang terkumpul bertumbuh
menjadi berat, sehingga dalam hidup ini anak berakhir dalam kandungan
ibunya.

Dengan berlalunya bulan, kelima organ penting berkembang; Dalam waktu tujuh
minggu, keenam alat indera mulai tumbuh, Badan ibu menjadi seberat gunung:
Diamnya dan gerakan-gerakan janin adalah laksana bencana angin kalpic,
Baju-baju ibu yang cantik tidak dapt dipakai dengan baik lagi, dan begitu
juga cerminnya pun berdebu.


2.. KEBAIKAN DALAM MENANGGUNG DERITA SELAMA KEHAMILAN

Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan penanggalan Candra Sengkala, dan
puncaknya ialah kesulitan dengan semakin dekatnya kelahiran, sementara itu,
setiap pagi ibu merasa sangat sakit, dan sepanjang hari terasa mengantuk dan
lamban, ketakutannya dan kegelisahannya sukar dilukiskan, kesedihan dan air
mata memenuhi dadanya. Dia dengan khawatir mengatakan kepada keluarganya,
bahwa ia hanya takut maut akan menimpa dirinya.


3.. KEBAIKAN UNTUK MELUPAKAN SEMUA KESAKITAN BEGITU ANAK TELAH LAHIR

Pada saat ibu akan melahirkan anak, Kelima oragan tubuh terbuka lebar,
menyebabkan dia sangat letih dalam badan dan pikiran, Darah mengalir laksana
seekor domba yang disembelih; Tetapi, ketika mendengar anaknya terlahir
sehat, Dia dipenuhi dengan kegembiraan yang melimpah, Tetapi sesudah
kegembiraan, kesedihan datang kembali, dan Rasa sakit kembali mengaduk-aduk
bagian dalam tubuhnya.


4.. KEBAIKAN DARI MEMAKAN BAGIAN YANG PAHIT BAGI DIRINYA DAN MENYIMPAN
BAGIAN YANG MANIS UNTUK ANAK

Kebaikan kedua orang tua sangat besar dan dalam, Penjagaan dan pengabdiannya
tidak pernah berhenti. Tidak pernah beristirahat, ibu senantiasa menyimpan
yang manis untuk anak, dan tanpa mengeluh menelah yang pahit bagi dirinya.

Cintanya amat besar dan emosinya sukar tertahankan, kebaikannya adalah
mendalam dan begitu juga kasihnya, hanya menginginkan anak mendapat cukup
makanan, ibu yang kasih tidak membicarakan kelaparannya sendiri.


5.. KEBAIKAN UNTUK MEMINDAHKAN ANAK KE TEMPAT YANG KERING DAN DIRINYA
SENDIRI DI TEMPAT YANG BASAH

Ibu rela berada ditempat yang basah agar dengan demikian anak dapat di
tempat yang kering. Dengan kedua payudaranya dia memuaskan rasa lapar dan
haus sang anak. Menutupi dengan kainnya, dia melindungi anak dari angin dan
dingin, dalam kebaikan, kepala ibu jarang lega di atas bantal, dan bahkan ia
melakukannya dengan gembira selama anak dapat merasa senang, ibu yang baik
tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri.


6.. KEBAIKAN MENYUSUI ANAK PADA PAYUDARANYA DAN MEMBERI MAKAN SERTA
MELAHIRKAN ANAK.

Ibu yang baik adalah bagaikan bumi yang besar, Ayah yang tegar laksana
langit yang mengasihi; yang satu melindungi dari atas, yang lainnya
menunjang dari bawah, kebaikan orang tua adalah sedemikian rupa sehingga
mereka tidak membenci atau marah terhadap anaknya, dan tetap menyukainya,
sekalipun anak terlahir lumpuh. Sesudah ibu mengandung anak dalam
kandungannya dan melahirkannya, orang tua bersama-sama memelihara dan
melindunginya sampai akhir hayatnya.


7.. KEBAIKAN DARI MEMBERSIHKAN YANG KOTOR

Mula-mula ibu mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang indah, semangatnya
kuat dan bergelora, Alis matanya seperti Daun Willow hijau yang segar, dan
warna kulitnya bagaikan mawar merah jambu. Tetapi kebaikan ibu begitu
mendalam sehingga dia melepaskan wajah yang cantik, sekalipun mencuci yang
kotor merusak badannya. Ibu yang baik bertindak hanya demi untuk kepentingan
putra-putrinya. Dan dengan rela menerima kecantikannya yang memudar.


8.. KEBAIKAN DARI SELALU MEMIKIRKAN ANAK BILA DIA BERJALAN JAUH.

Kematian dari orang yang dicintai sukar terlukiskan penderitaannya. Tetapi
berpisah dari yang dikasihi juga sangat menyakitkan. Bila anak berjalan
jauh, ibu merasa khawatir di kampungnya. Dari pagi hingga malam, hatinya
selalu bersama anaknya, dan air mata berderai jatuh dari matanya, seperti
monyet menangis dian-diam, demikian dalam cinta seorang ibu pada anaknya.
Sedikit demi sedikit hatinya hancur.


9.. KEBAIKAN KARENA KASIH SAYANG YANG DALAM DAN PENGABDIAN.

Alangkah besarnya kebaikan orang tua dan gejolak emosinya!

Kebaikannya mendalam dan sukar membalasnya, dengan rela mereka menderita
untuk kepentingan anaknya. Bila anak bekerja berat, orang tua merasa tidak
senang. Bila mereka mendengar bahwa dia berjalan jauh, mereka khawatir bahwa
pada waktu malam sang anak berbaring kedinginan. Bahkan kesakitan sebentar
yang diderita putra-putra atau putri-putrinya, akan menyebabkan orang tua
lama bersusah hati.


10.. KEBAIKAN DARI RASA WELAS ASIH YANG DALAM DAN SIMPATI

Kebaikan orang tua adalah besar dan Penting

Perhatiannya yang lemah lembut tidak pernah berhenti. Dari saat mereka
bangun tiap pagi, pikiran mereka adalah pada anaknya.

Apakah anak-anak dekat atau jauh, orang tua selalu memikirkan mereka.
Sekalipun seorang ibu hidup untuk seratus tahun. Dia akan selalu
mengkhawatirkan anaknya yang berumur delapan puluh tahun. Inginkah anda
mengetahui bilakan kebaikan dan cinta yang dimikian itu berakhir?

Ia bahkan tidak pernah berkurang hingga akhir hidupnya.

Sang Buddha berkata kepada Ananda, "Bila Aku Merenung tentang
makhluk-makhluk hidup, Aku melihat bahwa sekalipun mereka dilahirkan sebagai
manusia, mereka adalah bodoh dan dungu dalam pikiran-pikiran dan
tindakan-tindakan mereka. Mereka tidak mempertimbangkan kebaikan dan
kebajikan orang tua mereka. Mereka tidak menghormati dan melupakan kebaikan
dan apa yang benar. Mereka kurang manusiawi dan kurang berbakti ataupun
patuh pada orang tua.

Selama sepuluh bulan ibu mengandung anak, dia merasakan kesusahan setiap
kali dia bangun. Seolah-olah ia mengangkat beban yang berat. Bagai seorang
cacat yang parah, dia tak mampu menelan makanan dan minuman. Bila waktu
sepuluh bulan telah berlalu dan waktu melahirkan telah datang, dia menderita
segala macam kesakitan dan penderitaan supaya anak dapat dilahirkan. Dia
takut akan kematiannya, seperti seekor babi atau domba menunggu utnuk
disembelih. Kemudian darah mengalih di atas tanah. Inilah
penderitaan-penderitaan yang dialaminya.

Setelah anak lahir, dia menyimpan apa yang manis untuk anak dan menelan yang
pahit bagi dirinya sendiri. Dia menggendong anak dan memberinya makan serta
membersihkan kotorannya. Tiada pekerjaan demi kepentingan anaknya. Dia
menahan baik rasa dingin dan panas dan tiada penah menyebutkan apa yang
telah dialaminya. Dia memberikan tempat yang kering untuk anaknya dan ia
sendiri tidur di tempat yang lembab, selama tiga tahun dia memberi makan
anak dengan susu yang adalah darah badannya sendiri.

Orang tua terus-menerus mengajar dan membimbing anak-anaknya tentang apa
yang patut dan bermoral, selama anak tumbuh menjadi dewasa. Mereka mengatur
perkawinan bagi anak-anaknya dan menyediakan harta benda dan kekayaan atau
mengusahakan cara-cara untuk mendapatkannya bagi anak-anak mereka. Mereka
bertanggung jawab dan bersusah-susah sendiri dengan kerja dan semangat yang
besar, dan tiada pernah membicarakan kasih sayang dan kebaikan mereka.

Bila putra atau putrinya sakit, orang tua khawatir dan takut sehingga mereka
sendiri mungkin jatuh sakit. Mereka berada di samping anak, terus-menerus
menjaganya, dan hanya bila anak sembuh orang tua menjadi gembira kembali.
Dengan cara ini, mereka menjaga dan membesarkan anak-anaknya dengan harapan
yang terus-menerus bahwa keturunan mereka akan segera menjadi dewasa.

Alangkah sedihnya bila acap kali anak-anaknya justru tidak berbakti, sebagai
balasannya bila berbicara dengan sanak saudara yang seharusnya mereka
hormati, anak-anak tidak mau menunjukkan kepatuhan mereka. Ketika mereka
seharusnya bersikap hormat, mereka malah tidak mau bertingkah laku baik.
Mereka mendelik kepada orang yang seharusnya mereka segani dan menghina
paman-paman dan bibi-bibi mereka. Mereka memarahi saudara-saudaranya dan
menghancurkan perasaan kekeluargaan yang ada diantar mereka. Anak-anak
seperti itu tidak mempunyai rasa hormat atau perasaan yang patut.

Anak-anak mungkin bisa diajar dengan baik,tetapi mereka tetap tidak
berbakti, mereka tidak akan memperdulikan pengajaran atau mematuhi
aturan-aturan. Jarang sekali mereka menuruti bimbingan orang tua mereka.
Mereka menentang dan membangkang bila bergaul dengan saudara-saudara mereka.
Mereka datang dan pergi dari rumah tanpa memberi tahu kepada orang tua.
Kata-kata dan tindakan-tindakannya sangat sombong dan mereka bertindak
tiba-tiba tanpa membicarakannya dengan yang lainnya. Anak-anak yang demikian
tidak mengacuhkan teguran-teguran dan hukuman-hukuman yang dibuat oleh orang
tuanya dan tidak memperdulikan peringatan-peringatan paman-paman mereka.
Tatapi, mereka belum matang(dewasa) dan selalu perlu diperhatikan dan
dilindungi oleh orang yang lebih tua.

Sebagaimana anak-anak demikian makin besar, mereka menjadi keras kepala dan
tidak bisa diatur. Mereka sama sekali tidak berterima kasih dan betul-betul
melawan. Mereka menantang dan penuh kebencian, membuang keluarga dan
kawan-kawan mereka. Mereka berteman dengan orang-orang jahat dan segera
meniru kebiasaan-kebiasaan jahat mereka. Mereka menganggap yang salah adalah
benar.

Anak-anak yang demikian mungkin dipikat kawannya untuk meninggalkan
keluarganya dan lari untuk hidup di kota lain, dan dengan demikian tidak
mengakui orang tuanya, serta meninggalkan kota tempat lahir mereka. Mereka
mungkin menjadi pedagang atau pegawai negeri yang hidup dengan jemu dalam
kesenangan dan kemewahan. Mereka mungkin kawin dengan tergesa-gesa dan
ikatan baru ini bahkan merupakan halangan lain yang semakin menghalangi
mereka kembali kerumah untuk waktu yang lama.

Atau, ketika mencoba hidup di kota lain, anak-anak ini tidak hati-hati dan
mendapati dirinya difitnah atau dituduh berbuat jahat. Mereka mungkin
dipenjarakan dengan tidak adil. Atau mereka jatuh sakit dan terlibat dalam
malapetaka atau kesukaran-kesukaran, terkena penderitaan kemiskinan yang
hebat, kelaparan, dan kurus kering. Tetapi tak akan ada orang yang
memperhatikan mereka. Karena dibenci atau tak disukai orang-orang lain,
mereka akan disia-siakan di jalan. Dalam keadaan demikian, hidup mereka akan
berakhir. Tak seorang pun yan gbersusah payah mencoba menolong mereka. Badan
mereka membengkak, membusuk, hancur dan terkena matahari, serta beterbangan
dihembus angin. Tulang-tulang putih hancur sama sekali dan bertebaran.
Ketika anak-anak ini mati ditempat kotor di kota lain, mereka tidak akan
pernah berkumpul kembali dengan gembira bersama sanak saudara atau keluarga.
Juga mereka tidak akan pernah tahu bagaimana orang tua mereka yang makin tua
menangisi dan cemas tentang mereka. Orang tua mungkin menjadi buta karena
menangis atau menjadi sakit karena putus asa dalam kesedihan yang amat
sangat. Terus-menerus mengingat anak-anaknya, mereka mungkin meninggal
tetapi bahkan tatkala menjadi hantu sekalipun, jiwa mereka tetap
mengingatnya dan tak dapat melupakannya.

Anak-anak tidak berbakti lainnya mungkin tidak ada keinginan untuk belajar,
tetapi sebagai gantinya tertarik akan ajaran-ajaran aneh dan ganjil.
Anak-anak demikian mungkin menjadi jahat, kasar dan keras kepala, menyenangi
perbuatan-perbuatan yang sama sekali tidak menguntungkan. Mungkin mereka
terlibat dalam perkelahian dan pencurian, membuat diri mereka bertentangan
dengan aturan hidup kota karena minum-minuman dan berjudi. Seolah-olah
kejahatan mereka tidak cukup, mereka menarik saudara-saudaranya ikut berbuat
jahat sehingga menambah kesedihan orang tua mereka.

Kalaupun anak-anak yang demikian itu tinggal di rumah, mereka meninggalkan
rumah pagi-pagi sekali dan tidak kembali sampai jauh malam. Tidak pernah
mereka menanyakan kesejahteraan oran gtuanya atau memastikan apakah mereka
tidak menderita panas atau dingin. Mereka tidak menanyakan kesehatan orang
tua mereka di waktu pagi atau di sore hari, bahkan juga tidak pada hari
pertama atau kelima belas dari penanggalan bulan(Chandra Sengkala).
Sebenarnya tidak pernah terpikir oleh anak-anak yang tidak berbakti ini
untuk menanyakan apakah orang tua mereka dapat tidur nyenyak dan
beristirahat dengan tenang. Anak-anak yang demikian memang sama sekali tidak
memperhatikan kesehatan orang tuanya, bila orang tua mereka menjadi tua dan
rupanya makin lama makin renta dan kurus mereka dibuat merasa malu di depan
umum dan diejek serta diganggu.

Anak-anak tidak berbakti seperti itu mungkin akhirnya punya ayah seorang
duda atau ibunya seorang janda. Orang tua yang sendirian itu ditinggalkan
sendirian di rumah yang kosong dan merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Mereka mungkin tahan menghadapi dingin dah lapar, tetapi tidak ada yang
memperhatikan kesusahan mereka. Mereka mungkin menangis terus-menerus dari
pagi hingga malam, berkeluh kesah dan meratap. Adalah wajib bagi anak-anak
menyediakan makanan dan minuman yang enak bagi orang tua mereka yang menua,
tetapi anak-anak yang tidak bertanggung jawab sudah pasti melupakan
kewajiban-kewajibannya. Bila mereka pernah mau mencoba menolong orang tuanya
dengan cara apapun, mereka merasa malu dan takut ditertawakan orang lain.
Namun anak-anak yang demikian itu memfoya-foyakan harta dan makanan kepada
anak dan istri mereka, tanpa menghiraukan kerja dan kelelahan dalam
melakukannya. Anak-anak tidak berbakti lainnya mungkin diancam istrinya
sedemikian rupa sehingga mereka mengikuti segala keinginan istri. Tetapi
bila diminta oleh orang tuanya dan orang-orang yang lebih tua, mereka tidak
memperdulikannya dan sama sekali tidak tergerak hatinya melihat keadaan
mereka.

Dapat terjadi bahwa anak-anak perempuan berbakti kepada orang tuanya sebelum
kawin, tetapi makin lama makin membangkan sesudah mereka kawin. Keadaan
dapat menjadi begitu parah sehingga bila orang tua menunjukkan
ketidaksenangan sedikit saja, anak-anak perempuan menjadi penuh kebencian
dan dendam terhadap mereka. Tetapi, mereka sanggup menahan kemarahan dan
pukulan-pukulan suami mereka dengan senang, sekalipun pasangan mereka adalah
orang lain dengan ikatan keluarga yang lain dan nama keluarga yang lain
pula. Ikatan emosional di antara pasangan-pasangan yang demikian adalah
sangat erat, tetapi anak-anak perempuan yang demikian menjauhi orang tuanya.
Mereka mungkin mengikuti suami, dan pindah ke kota lain, dan meninggalkan
orang tuanya dan sama sekali. Mereka tidak merindukan orang tuanya dan sama
sekali tidak berhubungan dengan orang tuanya. Bila orang tua terus-menerus
tidak mendengar kabar dari anak-anak perempuannya, mereka khawatir
terus-menerus. Mereka begitu dibebani oleh kesedihan seolah-olah mereka
dihukum gantung dengan kepala dibawah.

Setiap pemikiran mereka ialah untuk melihat anak-anaknya seperti yang haus
merindukan sesuatu untuk diminum. Pemikiran mereka yang baik untuk anak-anak
tidak pernah berhenti.
Kebajikan dari kebaikan orang tua sungguh luas dan tak terbatas. Bila
seseorang berbuat kesalahan karena tidak berbakti, alangkah sukar membayar
kembali kebaikan itu!.


Ketika itu, setelah mendengarkan Sang Buddha berbicara tentang dalamnya
kebaikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menjatuhkan diri
mereka ke tanah dan mulai memukuli dada mereka dan menghempaskan diri mereka
hingga semua pori-pori mereka mengeluarkan darah. Beberapa orang pingsan di
atas tanah, sedangkan yang lain menghentakkan kakinya dalam kesedihan. Lama
baru mereka dapat mengatasi diri mereka. Dengan suara keras mereka meratap,
"Alangkah menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! Kami semua
bersalah. Kami adalah penjahat yang tidak pernah sadar, seperti mereka yang
berjalan di malam yang gelap. Kami baru sekarang menyadari
kesalahan-kesalahan kami dan hati kami tercabik-cabik. Kami hanya berharap
bahwa Sang Bhagava mengasihi dan menyelamatkan kami. Mohon ajarilah kami
bagaimana mengembalikan kebaikan yang mendalam dari orang tua kami!"

Pada waktu itu Tathagata memakai delapan macam suara yang sangat dalam dan
bersih, seraya berkata kepada kumpulan besar itu, "Anda semua harus
mengetahui ini, sekarang akan Aku jelaskan beberapa segi dari hal ini.

"Bila ada seseorang yang mengangkat ayahnya dengan bahu kirinya dan ibunya
dengan bahu kanannya dan oleh karena beratnya menembus tulang sumsumnya
sehingga tulang-tulangnya hancur menjadi debu, dan orang-orang tersebut
mengelilingi Puncak Sumeru seratus ribu kalpa lamanya sehingga darah yang
keluar dari kakinya membasahi pergelangan kakinya, orang tersebut belum
cukup membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya."

"Bila ada seseorang yang selama waktu satu kalpa yang penuh dengan kesukaran
dan kelaparan, memotong sebagian dari daging badannya sendiri untuk
memberikan makan orang tuanya dan ini diperbuatnya sebanyak debu yang ia
lalui dalam perjalanan seratus ribu kalpa, orang itu pun belum membalas
kebaikan yang mendalam dari orang tuanya."

"Bila ada satu orang yang demi orang tuanya, mengambil sebilah pisau yang
tajam dan mencungkil kedua belah matanya dan mempersembahkannya kepada
Tathagata, dan terus melakukannya sehingga beratus-ratus ribu kalpa, orang
tersebut masih tetap belum membalas kebaikan yang mendalam dari orang
tuanya."

"Bila ada orang yang demi ayah dan ibunya, mengambil sebuah pisau tajam dan
mengeluarkan jantung dan hatinya sehingga darang mengucur dan menutupi tanah
dan dia melakukan ini dalam beratus ribu kalpa, tiada sekalipun mengeluh
tentang kesakitannya, orang tersebut tetap belum dapat membalas kebaikan
yang besar dari orang tuanya."

"Bila ada orang yang demi orang tuanya, menghancurkan tulang-tulangnya
sendiri sampai kesumsum dan melakukan ini hingga beratus ribu kalpa orang
ini tetap belum membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya."

"Bila ada orang yang demi orang tuanya menelan butiran-butiran besi yang
mencair dan berbuat demikian hingga beratus ribu kalpa, orang itu tetap
belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya."

Pada waktu itu, ketika mendengar Buddha membicarakan kebaikan dan kewajiban
orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis diam-diam dan
merasakan kepedihan dalam hatinya. Mereka merenungkannya dan segera merasa
malu dan berkata kepada Sang Bhagava, "Oh, Sang Bhagava, bagaimana kami
dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami?".

Sang Buddha menjawab, "Wahai siswa-siswa Buddha, bila engkau ingin membalas
kebaikan orang tuamu, tulislah Sutra ini untuk mereka. Kumandangkanlah Sutra
ini untuk mereka. Bertobatlah atas pelanggaran-pelanggaran dan
kesalahan-kesalahan demi mereka. Untuk kepentingan orang tua berikanlah
persembahan kepada Sang Triratna. Demi orang tua, patuhilah kepada perintah
untuk hanya memakan makanan suci dan bersih. Demi orang tua biasakanlah
berdana dan mencari keberkahan. Bila engkau dapat melakukan ini, engkau
adalah anak yang berbakti. Bila engkau tidak melakukannya, engkau adalah
orang yang akan menuju pada alam sengsara."

Sang Buddha mengatakan kepada Ananda, "Bila seseorang tidak berbakti ketika
hidupnya berakhir dan badannya membusuk, dia akan jatuh ke dalam Neraka
Avici yang tidak terbatas. Neraka yang besar ini kelilingnya delapan puluh
ribu Yojana, dan dikelilingi dinding besi pada keempat sisinya. Diatasnya
ditutup oleh jaring-jaring, dan lantainya juga dibuat dari besi. Api akan
membakar dengan berkobar-kobar, sementara itu petir bergemuru dan sambaran
kilat yang berapi-api akan membakar. Perunggu yang cair dan cairan besi akan
disiramkan keatas badan orang-orang yang bersalah. Anjing-anjing perunggu
dan ular-ular besi terus menerus memuntahkan api dah asap yang membakar
orang-orang bersalah dan memanggang badan dan lemaknya hingga menjadi bubur.

"Oh, penderitaan yang hebat! Sukar menahankannya, sukar menanggungkannya!
Ada galah, pengait, lembing-lembing, tombak-tombak, besi, dan rantai-rantai
besi, pemukul-pemukul dari besi,dan jarum-jarum besi. Roda-roda dari pisau
besi turun bagai hujan dan udara. Orang yang bersalah itu dicincang,
dipotong atau ditikam dan mengalami hukuman-hukuman yang mengerikan ini
selama berkalpa-kalpa tidak henti-hentinya, kemudian mereka memasuki
neraka-neraka berikutnya, dimana kepala mereka akan ditutup dengan
mangkok-mangkok yang panas sekali, sedangkan roda-roda besi akan mengilas
badan mereka secara mendatar dan tegak lurus sehingga perut mereka pecah dan
daging serta tulang-tulangnya menjadi lebur. Dalam satu hari mereka akan
mengalamai beribu-ribu kelahiran dan kematian. Penderitaan-penderitaan yang
demikian adalah akibat melakukan kelima perbuatan jahat dan karena tidak
berbakti selama seseorang masih hidup."

Pada waktu itu setelah mendengar Sang Buddha membicarakan Sutra tentang
kebajikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis dengan
sedihnya dan berkata kepada Tathagata, "Pada hari ini, bagaimana kami dapat
membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami?."

Sang Buddha berkata, "Wahai siswa-siswa Buddha, bila engkau ingin membalas
kebaikan-kebaikan mereka, maka demi mereka salinlah sutra ini. Ini
sesunguhnya membalas kebaikan mereka. Bila seseorang dapat menyalin satu
saja maka ia akan melihat Satu Buddha. Bila seseorang dapat menyalin sepuluh
buah, maka dia akan melihat 10 Buddha. Bila seseorang dapat menyalin 100,
maka ia akan bertemu 100 Buddha. Bila seseorang menyalin 1000, maka ia akan
melihat 1000 Buddha. Bila seseorang dapat menyalin 10.000, maka ia akan
melihat 10.000 Buddha. Inilah kekuatan yang diperoleh bila orang-orang saleh
menyalin Sutra. Semua Buddha akan selamanya melindungi orang yang demikian
itu dan dapat dengan segera menyebabkan orang tua mereka lahir kembali di
surga utnuk menikmati segala kebahagiaan dan meninggalkan
penderitaan-penderitaan mereka.

Ketika itu, Ananda dan yang lainnya dalam kumpulan besar itu Asura, Garuda,
Kinnara, Mahoraga, Manusia, Bukan manusia dan lain-lainnya demikian juga
Dewa-dewa, Naga, Yaksha, Gandarwa, Raja-raja yang lebih kecil, merasakan
semua bulu pada badan mereka berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan
Sang Buddha. Mereka menangis dengan sedihnya dan tak sanggup
menghentikannya. Masing-masing bertekad dan berkata, "Kami semua mulai
sekarang sampai perwujudan akhir dari masa mendatang, akan lebih suka badan
kami dilumatkan menjadi abu untuk beratus ribu kalpa daripada melanggar
ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata. Kami lebih suka lidah kami dicabut,
sehingga akan memanjang sepanjang satu Yojana penuh, dan untuk selama
seratus ribu kalpa sebuah luku besi ditarik di atasnya, daripada melanggar
ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata. Kami lebih suka roda dengan seratus
ribu pisau menggelinding bebas diatas badan kami, daripada melanggar
ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata. Kami lebih suka badan kami diikat
dengan jaring besi selama seratus ribu kalpa, dari pada melanggar
ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata. Kami lebih suda badan kami
dicincang, dipotong, dirusak, dan dipahat menjadi sepuluh juta potong
sehingga kulit, daging, persendian, dan tulang-tulang kami betul-betul
hancur, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata."

Ketika itu, Ananda dengan agung dan perasaan damai, bangkit dari tempat
duduknya dan bertanya kepada Sang Buddha, "Sang Bhagava, apakah nama Sutra
ini bila kami mengikutinya dan menjaganya?"


Sang Buddha berkata kepada Ananda, "Sutra ini disebut SUTRA KASIH YANG
MENDALAM DARI ORANG TUA DAN KESULITAN MEMBALASNYA. Pakailah nama ini bila
engkau mengikutinya dan menjaganya."

Ketika itu, kumpulan besar itu, Dewa-dewa, Manusia-manusia, Asura, dan
lain-lainnya, mendengar apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha,
betul-betul merasa gembira. Mereka mempercayainya, menerimanya, dan
menyesuaikannya dengan tingkah laku mereka dan kemudian menunduk hormat dan
berlalu.

Post a Comment